Berita Terkini
07 Maret 2018
Gua Tabuan
Dilihat  134       Komentar  0

Gua tabuhan mempunyai lorong mendatar sepanjang 105m , berarah barat-timur.Ruangan pertama dihiasi oleh stalaktit yang memanjang dan melengkung ke arah mulut gua(biostalaktit). Pelengkungan dikendalikan oleh jamur yang hidup diujung stalaktit. Jamur itu memerlukan sinar matahari untuk fotosintesa. Di mulut gua , staaktit bercampur dengan rock-pendant yaitu sisa pelarutan batugamping. Ruangan kedua yang mempunyai atap lebih rendah berakhir pad sebuah lubang kecil yang buntu.

Dasar gua dilapisi oleh sendimen berwarna coklat, mengandung sisipan tuf berwarna putih. Pada tahun 1955 van Heekeren melakukan penggalian dan menemukan sisa-sisa tulang vertebrata dan artefak batu.Ini membuktikan gua pernah dihuni oleh manusia prasejarah dimasa lalu. Pada zaman Perang Diponegoro (1825-1830) gua menjadi tempat bertapa Sentot Prawirodirjo, seorang panglima perang.

Sekumpulan stalaktit, karena kering dan berongga, jika dipukul akan mengeluarkan nada gamelan tertentu. Diiringi gendang dan nyanyian pesinden,terciptalah musik tradisional gamelan di dalam gua. Gua sudah dikunjungi orang sejak abad 19 yang diketahui melalui grafity yang di pahatkan pada stalaktit dan flowstone.

© 2019, Gunungsewu Geopark